Belum ada angka baru, belum ada pengumuman resmi. Tapi satu hal jelas BBM RON 92–98 lagi “dipanasin”. Dan ketika Bahlil mulai bicara soal hitung-hitungan ulang, itu biasanya bukan obrolan ringan.

Situasinya sekarang ada di fase yang bikin orang nahan napas belum kejadian, tapi arahnya udah bikin mikir. Apalagi yang disorot bukan BBM subsidi, tapi jenis yang dipakai sehari-hari sama banyak pengguna kendaraan.

Harga BBM Non-subsidi RON 92, RON 95, RON 98

Pemerintah lagi duduk bareng badan usaha energi, ngebahas ulang harga BBM non-subsidi. RON 92, RON 95, RON 98, sampai Pertamina Dex masuk dalam daftar evaluasi.

Bahasanya memang “penyesuaian”. Tapi di lapangan, semua orang paham: ini bisa berarti naik, bisa juga tetap tergantung hasil akhir.

Bahlil sendiri belum ngasih angka atau tanggal. Tapi dia ngelempar satu kunci penting semuanya tergantung harga minyak mentah dunia alias ICP. Di sini mulai kelihatan arah ceritanya.

Kenapa Tiba-Tiba Jadi Sensitif?

Karena harga BBM itu bukan cuma soal energi ini soal efek berantai.

Ketika harga minyak dunia naik, Indonesia yang masih impor sebagian kebutuhan energi otomatis kena dampaknya. Biaya produksi naik, distribusi ikut naik.

Kalau harga di dalam negeri nggak disesuaikan, negara yang harus nutup selisihnya. Dan itu berarti tekanan ke anggaran.

Makanya pemerintah sekarang lagi cari titik “tahan” nggak bikin APBN jebol, tapi juga nggak langsung bikin masyarakat kaget.

Masalahnya, posisi ini nggak pernah gampang.

Dampak Nyatanya Bakal Seberapa Kerasa?

Ini yang sering diremehin. Kalau BBM RON 92–98 naik, efeknya nggak cuma ke pengguna mobil pribadi. Dampaknya bisa ngerembet ke mana-mana.

Transportasi online bisa naik. Ongkir logistik ikut naik. Harga bahan pokok bisa pelan-pelan ikut geser.

Bahkan sektor kecil kayak UMKM juga bisa kena, karena biaya operasional mereka sering bergantung ke BBM jenis ini. Jadi walaupun kelihatannya “cuma BBM non-subsidi”, efeknya tetap luas.

Di tengah kekhawatiran ini, ada satu hal yang sebenarnya cukup positif: kondisi LPG nasional. Sempat ada tekanan, tapi sekarang stoknya udah balik stabil. Cadangan bahkan sudah di atas 10 hari ini angka yang cukup aman.

Nggak cuma itu, dalam waktu dekat bakal ada tambahan pasokan lagi yang masuk. Artinya, untuk kebutuhan rumah tangga, situasinya relatif terkendali.

Pemerintah juga mulai menggeser strategi impor energi. Solar udah nggak diimpor lagi, dan fokus sekarang ada di bensin. Ini nunjukin ada upaya buat lebih mandiri, walaupun belum sepenuhnya lepas dari impor.

Kenapa Pemerintah Terlihat Lebih “Hati-Hati”?

Karena sekarang situasi global lagi nggak stabil. Biasanya orang khawatir soal Selat Hormuz jalur minyak yang sering jadi titik panas geopolitik. Tapi untuk LPG, Indonesia udah mulai diversifikasi sumber.

Pasokan datang dari Australia, Amerika, dan negara lain. Jadi risiko gangguan dari satu jalur bisa ditekan. Ini langkah penting, karena ketahanan energi sekarang bukan cuma soal stok, tapi juga soal sumber dan jalur distribusi.

Jadi, Harus Khawatir Sekarang?

Belum tentu. Sampai sekarang belum ada keputusan resmi soal kenaikan BBM RON 92–98. Semua masih di meja hitung.

Tapi satu hal yang bisa dibaca: pemerintah lagi serius ngecek ulang semuanya. Dan itu biasanya terjadi ketika ada tekanan yang nggak kecil. Buat masyarakat, ini bukan soal panik tapi soal siap.

Intinya: BBM RON 92–98 memang belum naik, tapi sinyalnya udah jelas terasa. Bahlil nggak ngomong angka, tapi arah kebijakannya mulai kebaca. Sekarang tinggal nunggu: hitungannya mengarah ke kenaikan, atau justru ada ruang buat tetap stabil?

Baca Juga: