Kasus mobil program MBG di NTB mendadak viral dan bikin publik bertanya-tanya. Dalam video yang beredar, kendaraan operasional untuk program gizi ini diduga digunakan di luar peruntukannya. Dampaknya tak main-main, mulai dari kepercayaan publik hingga pengawasan program pemerintah ikut dipertaruhkan.

Efek viral ini bukan hanya menyasar pihak terkait, tapi juga memicu perhatian luas masyarakat terhadap pengelolaan program MBG di daerah.

Kasus ini mencuat setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan dua mobil bertuliskan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Diduga, mobil tersebut digunakan untuk menjemput penumpang di Bandara Internasional Lombok hingga aktivitas wisata ke Pantai Malimbu, Lombok Barat, pada akhir Maret 2026.

Mobil MBG Diduga Disalahgunakan di NTB

Video yang viral memperlihatkan kendaraan operasional program MBG digunakan untuk aktivitas yang tidak sesuai fungsinya. Dua kejadian berbeda disebut terjadi, yakni penjemputan penumpang di bandara dan penggunaan mobil untuk berwisata.

Namun hingga saat ini, identitas kendaraan tersebut masih misterius. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melakukan penelusuran selama dua minggu, tetapi belum menemukan petunjuk kuat.

Masalah utamanya adalah tidak adanya nomor polisi yang terlihat jelas dalam video maupun gambar yang beredar. Hal ini membuat proses verifikasi menjadi terhambat.

Salah satu kendala terbesar dalam pengusutan kasus ini adalah minimnya informasi visual yang bisa diidentifikasi. Tanpa nomor kendaraan, pihak BGN tidak dapat memastikan asal unit SPPG tersebut.

Padahal, kendaraan program MBG tersebar di berbagai wilayah, termasuk di Pulau Lombok. Hal ini membuat proses pelacakan menjadi lebih kompleks.

Di sisi lain, Koordinator Regional SPPG NTB, Eko Prasetyo, mengaku sudah menerima laporan terkait dugaan penyalahgunaan ini. Video tersebut bahkan telah disebarkan ke seluruh kepala SPPG di Lombok untuk membantu identifikasi, namun hasilnya masih nihil.

Reaksi Publik

Kasus ini berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap program MBG, yang sejatinya bertujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat.

Jika benar terjadi penyalahgunaan, hal ini bisa memunculkan persepsi negatif terhadap pengelolaan program pemerintah di daerah.

Selain itu, penggunaan kendaraan operasional di luar fungsi juga berisiko mengganggu distribusi layanan MBG yang seharusnya tepat sasaran.

Baca juga: Heboh MBG di Lombok, Mobil Operasional Jadi Angkutan
Baca juga: Skema MBG Pakai Sistem No Service No Pay, Kenapa

Perkembangan Terbaru dari Pihak BGN

Hingga kini, pihak BGN masih terus melakukan penelusuran. Dadan Hindayana menegaskan bahwa tanpa nomor polisi, pihaknya belum bisa mengambil tindakan lebih lanjut.

Sementara itu, pihak SPPG NTB juga masih menyelidiki mobil berwarna hitam yang diduga digunakan untuk kegiatan wisata ke Pantai Malimbu.

Pihak terkait juga sudah menginstruksikan seluruh unit di wilayah tersebut untuk melaporkan jika menemukan kendaraan yang sesuai dengan ciri dalam video.

Kendaraan SPPG Hanya Utuk Distribusi MBG

Pihak BGN menegaskan bahwa kendaraan SPPG hanya boleh digunakan untuk distribusi program MBG, seperti mengantar dan mengambil ompreng (wadah makanan).

Penggunaan di luar itu, termasuk untuk kepentingan pribadi atau wisata, tidak diperbolehkan sama sekali.

Masyarakat juga diimbau untuk ikut mengawasi dan melaporkan jika menemukan indikasi penyalahgunaan fasilitas program pemerintah.

Kasus ini menjadi sorotan karena hanya bermodal video tanpa identitas kendaraan, namun mampu memicu investigasi nasional. Ini menunjukkan kuatnya pengaruh media sosial dalam mengawal transparansi program publik.

Kasus dugaan penyalahgunaan mobil MBG di NTB masih menyisakan tanda tanya besar. Tanpa identitas kendaraan yang jelas, proses pengusutan menjadi terhambat.

Namun tekanan publik terus meningkat, dan perkembangan selanjutnya sangat dinantikan. Apakah pelaku akan segera terungkap? Publik kini menunggu langkah tegas dari pihak terkait.