Menahan harga BBM memang terasa meringankan masyarakat. Tapi di balik itu, ada beban yang terus membesar setiap hari bahkan disebut bisa tembus triliunan rupiah.

Situasi ini mulai jadi perhatian serius. Dikutip dari Liputan6.com, tekanan tidak lagi soal harga, tapi soal ketahanan pasokan dalam jangka waktu ke depan.

Boncos Rp 2 Triliun per Hari Gara-Gara Harga BBM Tak Naik

Kebijakan pemerintah yang belum menyesuaikan harga BBM hingga saat ini masih bertahan. Padahal, kondisi pasar energi global terus bergerak dinamis.

Dikutip dari Liputan6.com, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengungkap belum ada tanda perubahan harga dalam waktu dekat.

"Kalau kabar dari teman-teman Pertamina, sampai hari ini belum ada sinyal atau lampu kuning menuju lampu hijau terhadap adjustment," ujarnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Selisih Harga Jadi Tekanan Nyata

Di balik kebijakan tersebut, ada selisih cukup besar antara harga jual dan harga keekonomian BBM.

Dikutip dari Liputan6.com, selisih itu berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp9.000 per liter angka yang terlihat kecil, tapi berdampak besar saat dikalikan volume nasional.

Dengan konsumsi BBM nasional sekitar 80 juta kiloliter (KL) per tahun dan pangsa pasar Pertamina mencapai 88–90 persen, tekanan finansial menjadi tidak terhindarkan.

"Artinya kalau kita hitung, penjualan Pertamina 1 tahun 72-75 juta KL. Kalau dibagi hari, itu per hari kira-kira 200 ribu liter. Kalau dikalikan lagi Rp 5-9 ribu, itu rentangnya sudah di kisaran Rp 1,5-2 triliun, per day tambahannya. Berarti kalau kalikan 1 bulan, sudah Rp 60 triliun mungkin," ungkapnya, dikutip dari Liputan6.com.

Bukan Sekadar Subsidi, Ini Soal Ketahanan

Menurut Komaidi, persoalan utama bukan sekadar subsidi yang bisa dibayar belakangan. Masalah utamanya ada pada keberlanjutan pengadaan BBM.

"Ini bukan masalah subsidinya, tetapi ini masalah keberlanjutan pengadaannya yang perlu diantisipasi. Kalau subsidi nanti bisa diselesaikan pakai mekanisme kompensasi, katakanlah kalau hari ini enggak bisa mungkin di tahun berikutnya, pakai carry over di tahun berikutnya, itu selesai," bebernya.

"Tetapi yang jauh lebih mengkhawatirkan dalam konteks ketahanan itu adalah, ada enggak uangnya Pertamina untuk mengadakan di hari atau bulan berikutnya," dia menekankan, dikutip dari Liputan6.com.

Risiko Besar Jika Terus Ditahan

Jika tekanan ini terus berlangsung, dampaknya bisa langsung terasa ke masyarakat. Bukan hanya soal harga, tapi ketersediaan BBM itu sendiri.

"Kalau Pertamina once enggak bisa mengadakan sementara mereka market share-nya 90 persen, ya enggak akan ada BBM di dalam negeri. Ini yang saya kira yang perlu hati-hati dalam mencermati untuk kemudian memberi kebijakan," pintanya, dikutip dari Liputan6.com.

Situasi ini membuka potensi gangguan distribusi hingga aktivitas ekonomi yang ikut terdampak.

Update Terbaru: Belum Ada Sinyal Perubahan

Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda penyesuaian harga BBM akan dilakukan dalam waktu dekat.

"Di satu sisi, keputusan untuk tidak menaikan harga dalam konteks ekonomi cukup dipahami. Tetapi yang jauh lebih penting, kalau barangnya enggak ada, itu akan collapse semua. Jadi hitung-hitungan APBN maupun ekonomi jadi tidak berarti kalau barang itu tidak ada," pungkasnya, dikutip dari Liputan6.com.

Menahan harga BBM memang menjaga stabilitas jangka pendek. Tapi jika beban terus menumpuk, risikonya bisa jauh lebih besar.

Bukan tidak mungkin, isu berikutnya bukan lagi soal harga melainkan apakah BBM masih tersedia.

Baca Juga: Belum Naik, Tapi Udah Bikin Panas, Bahlil Kasih Sinyal BBM

Baca Juga: Menkeu Purbaya Jamin BBM Subsidi Tidak Naik Hingga Desember 2026