Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya jadi solusi gizi justru bikin kaget. Sejumlah dapur ditemukan dalam kondisi tak layak—bahkan disebut mirip “goa” di bawah tanah.

Temuan ini langsung memicu pertanyaan: seberapa aman makanan yang disalurkan ke siswa?

Dalam inspeksi mendadak pada 7 April 2026, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional menemukan sejumlah dapur MBG bermasalah di Bandung Barat dan Cimahi. Padahal, dapur-dapur ini sudah lama beroperasi sebagai bagian dari program nasional.

Dapur MBG Bermasalah Terbongkar Saat Sidak

Inspeksi dilakukan secara acak dan hasilnya cukup mengejutkan. Salah satu dapur yang disorot berada di Ngamprah, Bandung Barat.

Bangunan tersebut bukan dapur profesional, melainkan rumah yang dialihfungsikan. Struktur ruangnya tidak biasa: tiga tingkat ke bawah seperti lorong sempit dengan tangga curam tanpa pegangan.

Alur kerja dapur pun dinilai tidak aman. Bahan makanan, proses memasak, hingga pembagian dilakukan di ruang berbeda yang tidak memenuhi standar. Bahkan akses antar lantai dinilai berisiko bagi pekerja.

Tak hanya itu, beberapa dapur lain di wilayah sekitar juga ditemukan dalam kondisi sempit dan kurang higienis. Semua berasal dari rumah warga yang dipaksakan menjadi dapur produksi makanan massal.

Standar Ketat di Awal, Kenapa Sekarang Lolos?

Yang jadi sorotan bukan hanya kondisi dapur, tapi juga proses lolosnya verifikasi.

Di awal program MBG, standar dapur disebut sangat ketat. Perbedaan lantai kecil saja bisa membuat lokasi ditolak. Namun kini, bangunan dengan struktur tidak layak justru bisa beroperasi.

Hal ini memunculkan tanda tanya besar terkait pengawasan dan evaluasi di lapangan. Apakah ada kelonggaran aturan? Atau pengawasan yang mulai longgar?

Kondisi dapur yang tidak ideal juga berdampak pada tata ruang. Tidak ada pemisahan jelas antara area bersih dan kotor, bahkan beberapa aktivitas menggunakan pintu yang sama.

Dampak ke Kualitas Makanan dan Pengawasan

Masalah dapur MBG bukan sekadar soal bangunan, tapi juga berpotensi memengaruhi kualitas makanan.

Ruang sempit membuat proses pemorsian tidak optimal. Tidak adanya gudang dan area pencucian terpisah berisiko mencemari bahan makanan.

Lebih jauh lagi, fasilitas yang minim membuat pengawas dan kepala dapur tidak berada di lokasi saat proses memasak. Mereka bahkan harus mencari tempat tinggal di luar dapur.

Akibatnya, kontrol kualitas menjadi lemah. Padahal program ini menyasar anak sekolah yang membutuhkan asupan gizi optimal.

Pemerintah Janji Perbaikan dan Evaluasi Total

Temuan ini langsung direspons dengan rencana peningkatan kualitas program MBG mulai 2026.

Salah satu perubahan utama adalah sistem insentif yang tidak lagi disamaratakan. Dapur dengan fasilitas baik akan mendapat penilaian berbeda dibanding dapur sempit dan tidak layak.

Langkah ini diharapkan bisa mendorong peningkatan standar, baik dari sisi bangunan, sumber daya manusia, maupun proses produksi makanan.

Evaluasi menyeluruh juga disebut akan dilakukan untuk memastikan dapur yang beroperasi benar-benar memenuhi standar keamanan dan kelayakan.

Alarm Untuk Program MBG

Program MBG tetap berjalan dan menjadi prioritas pemerintah dalam meningkatkan gizi anak. Namun, kualitas pelaksanaan kini menjadi sorotan utama.

Publik diharapkan ikut mengawasi, terutama jika menemukan kejanggalan di lapangan. Transparansi dan evaluasi menjadi kunci agar program ini benar-benar memberi manfaat, bukan sekadar formalitas.

Baca Juga:

Temuan dapur MBG tak layak jadi alarm serius bagi program makan gratis nasional. Di satu sisi, niat baik pemerintah jelas. Tapi di sisi lain, pelaksanaan di lapangan masih menyisakan celah.

Perbaikan kini jadi kunci karena yang dipertaruhkan bukan hanya program, tapi juga kesehatan generasi muda.