Pemerintah Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan kesiapan menghadapi konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi militer di Timur Tengah setelah serangkaian serangan rudal dan operasi balasan antara pihak-pihak yang terlibat.

Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, mengatakan Iran masih menyimpan kemampuan militer yang belum sepenuhnya digunakan. Ia menyebut operasi militer yang sedang berlangsung baru memanfaatkan sebagian kecil dari potensi persenjataan yang dimiliki Teheran.

Ketegangan regional meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel, termasuk ke arah Tel Aviv. Serangan tersebut terjadi ketika konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan kelompok bersenjata sekutunya terus meluas dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Iran Sebut Perang Berakhir Jika Agresi AS-Israel di Hentikan

Serangan Rudal dan Operasi “Janji Sejati 4”

IRGC menyebut rangkaian serangan yang mereka lakukan sebagai bagian dari operasi militer bernama “True Promise 4” atau “Janji Sejati 4”. Dalam salah satu gelombang serangan terbaru, pasukan udara IRGC dilaporkan meluncurkan sekitar 40 rudal yang diarahkan ke target yang berkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan resmi IRGC yang disiarkan televisi pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai gelombang ke-17 dari operasi yang sama. Menurut mereka, aksi tersebut merupakan respons terhadap serangan udara yang lebih dulu dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran sejak akhir Februari 2026.

Pada saat yang sama, televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa sejumlah rudal ditembakkan menuju sasaran di jantung kota Tel Aviv. Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa titik di kota tersebut.

Petugas pemadam kebakaran terlihat menangani kebakaran di sebuah bangunan perumahan yang berada di dekat kawasan komersial. Serangan tersebut disebut menggunakan rudal Khayber, salah satu sistem persenjataan Iran.

Dalam keterangannya, Naeini menegaskan bahwa Iran masih menyimpan teknologi militer lain yang belum digunakan secara luas di medan tempur. Ia memperingatkan bahwa gelombang operasi berikutnya dapat menghadirkan serangan yang lebih kuat.

Eskalasi Konflik dan Respons Pihak Terkait

Ketegangan militer di kawasan meningkat setelah Israel memperluas operasi militernya terhadap kelompok militan Hezbollah. Kelompok tersebut diketahui memiliki hubungan dengan Iran dan ikut terlibat dalam konflik yang berkembang setelah terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Baca Juga: Malaysia Konfirmasi Anwar Ibrahim Hadiri KTT D-8

Pemerintah Israel sebelumnya menyatakan akan melakukan langkah balasan terhadap pihak yang terlibat dalam konflik tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menyebut kemungkinan konflik dengan Iran dapat berlangsung dalam jangka waktu tertentu, meski menurutnya tidak sampai bertahun-tahun.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga memberikan peringatan mengenai potensi meningkatnya korban dalam konflik tersebut. Presiden Donald Trump bersama pejabat senior pemerintahannya menilai serangan balasan dari Iran dapat meningkatkan risiko terhadap pasukan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa sejak konflik meningkat, Iran telah meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik serta lebih dari 2.000 drone dalam berbagai serangan di kawasan tersebut.

Risiko terhadap personel militer Amerika juga dibahas dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen AS. Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Dalam pengarahan itu, beberapa anggota parlemen menyampaikan kekhawatiran terkait kemampuan pertahanan terhadap serangan drone yang terus berlanjut. Senator Chris Murphy mengatakan para pejabat keamanan memperingatkan bahwa potensi korban di pihak Amerika masih bisa bertambah jika konflik terus berlangsung.

Situasi di Timur Tengah masih berada dalam kondisi tegang setelah serangkaian serangan rudal dan operasi militer yang saling berbalasan. Iran menegaskan kesiapan menghadapi konflik jangka panjang, sementara Amerika Serikat dan Israel memperingatkan risiko meningkatnya korban serta perluasan konflik di kawasan.

Berita Rekomendasi: KPK Akan Periksa Suami dan Anak Bupati Pekalongan

Perkembangan terbaru dari operasi militer yang sedang berlangsung diperkirakan akan terus memengaruhi stabilitas keamanan regional dalam waktu dekat.