Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan kehadiran militer Amerika Serikat yang akan mengawal kapal komersial di Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, pada Sabtu (7/3), di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia.

Menurut Naini, Iran tidak mempermasalahkan jika Amerika Serikat benar-benar mengirim konvoi militer untuk mendampingi kapal tanker yang melintasi jalur pelayaran tersebut. Ia bahkan menegaskan bahwa pihaknya menunggu realisasi rencana tersebut.

Pernyataan ini muncul ketika kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan energi global kembali meningkat akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Iran Siap Hadapi Perang Panjang, IRGC Isyaratkan Senjata

Ketegangan di Selat Hormuz Jadi Sorotan

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Wilayah ini menjadi pintu utama ekspor minyak dan gas dari negara-negara di Teluk Persia menuju pasar global.

Diperkirakan sekitar 20 persen perdagangan dunia untuk minyak mentah, produk petroleum, serta gas alam cair melewati jalur sempit tersebut setiap hari. Karena itu, setiap gangguan keamanan di kawasan ini dapat berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi internasional.

Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas pelayaran di wilayah tersebut dilaporkan mengalami gangguan. Situasi ini terjadi setelah meningkatnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengisyaratkan kemungkinan pengerahan armada angkatan laut untuk mengawal kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Langkah itu disebut sebagai upaya untuk menenangkan pasar energi dan memastikan arus perdagangan tetap berjalan.

Rencana pengawalan militer tersebut diperkirakan dapat dilakukan dalam beberapa pekan ke depan apabila situasi keamanan belum stabil.

Baca Juga: Saudia Perpanjang Penghentian Penerbangan ke 8 Kota

Dampak Konflik Terhadap Stabilitas Kawasan

Ketegangan yang memicu rencana tersebut berawal dari serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban sipil.

Sebagai respons, Iran kemudian melancarkan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Rangkaian aksi militer tersebut memperburuk situasi keamanan di wilayah Teluk dan memicu kekhawatiran global mengenai keselamatan jalur perdagangan energi.

Selat Hormuz sendiri selama ini menjadi titik sensitif dalam dinamika geopolitik kawasan. Setiap peningkatan ketegangan di wilayah tersebut kerap memicu perhatian internasional karena dampaknya dapat meluas ke sektor energi dan perdagangan global.

Pernyataan dari pihak Iran terkait kemungkinan pengawalan kapal oleh militer Amerika Serikat menambah dinamika baru dalam perkembangan situasi di kawasan tersebut.

Berita Rekomendasi: Gunung Semeru Kembali Erupsi, PVMBG Minta Warga Waspada

Perkembangan situasi di Selat Hormuz terus menjadi perhatian dunia karena perannya yang vital dalam distribusi energi global. Rencana pengawalan kapal oleh militer Amerika Serikat dan respons dari Iran menunjukkan bahwa ketegangan di kawasan Teluk masih berlanjut dan berpotensi mempengaruhi stabilitas pelayaran internasional.