Pejabat parlemen Iran menegaskan bahwa negaranya tidak sedang melakukan perundingan dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Pernyataan itu disampaikan pada Kamis setelah pertemuan dengan pihak militer dan pertahanan untuk membahas situasi konflik yang melibatkan AS dan Israel.

Penegasan ini muncul setelah sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pejabat Iran ingin membuka jalur negosiasi, meski belum siap. Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran melalui perwakilan resmi parlemen.

Dalam keterangannya, juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri, Ebrahim Rezaei, menyampaikan bahwa tidak ada proses dialog yang sedang berlangsung dengan Washington saat ini. Ia juga mengingatkan bahwa Iran akan bersikap tegas terhadap negara lain yang terlibat dalam konflik tersebut.

Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 1.001 Orang

Peringatan Iran soal Basis Militer Asing

Rezaei menegaskan bahwa setiap negara yang mengizinkan wilayahnya atau pangkalan militernya digunakan untuk menyerang Iran akan dianggap sebagai musuh. Peringatan ini ditujukan kepada negara-negara di kawasan yang memiliki hubungan militer dengan Amerika Serikat.

Menurutnya, keterlibatan dalam bentuk apa pun, baik secara langsung maupun tidak langsung, akan memicu respons dari Iran. Sikap ini mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah eskalasi konflik yang melibatkan beberapa negara.

Di sisi lain, Rezaei juga menyampaikan bahwa kondisi keamanan di Pulau Kharg telah kembali stabil. Ia memastikan aktivitas ekspor minyak dari wilayah tersebut tetap berjalan tanpa gangguan, meskipun sebelumnya menjadi sasaran serangan.

Berita Nasional: Open House Idulfitri 2026, KDM Buka Akses untuk

Dampak Serangan dan Respons Iran

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa serangan militer Amerika telah merusak sebagian besar fasilitas militer di Pulau Kharg, namun tidak menyasar pusat produksi minyak. Klaim tersebut berbeda dengan pernyataan Iran yang menegaskan operasional energi tetap berlangsung normal.

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dilaporkan mulai memanas sejak 28 Februari. Serangan yang terjadi disebut telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak dan rudal ke sejumlah wilayah yang dianggap memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer AS. Target serangan mencakup Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika.

Eskalasi ini memperluas dampak konflik dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya ketegangan di kawasan. Sejumlah negara kini berada dalam posisi sensitif terkait potensi keterlibatan dalam konflik yang lebih besar.

Rekomendasi: Ancaman Spyware iPhone Meningkat, Jutaan Perangkat

Iran menegaskan sikapnya yang tidak membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat di tengah konflik yang masih berlangsung. Di saat yang sama, peringatan terhadap negara lain menunjukkan potensi eskalasi lebih lanjut jika ketegangan tidak mereda. Situasi di kawasan masih dinamis dan berpotensi mengalami perkembangan dalam waktu dekat.