Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Global Langsung Anjlok
Harga minyak dunia anjlok setelah Selat Hormuz dibuka saat gencatan senjata. Pasar merespons harapan turunnya gangguan pasokan global.
Harga minyak dunia tiba-tiba merosot tajam. Penurunan ini terjadi di tengah kabar penting dari kawasan Timur Tengah yang langsung mengguncang pasar energi global.
Pada Jumat (17/4/2026), harga minyak anjlok setelah pernyataan dari Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi soal kondisi Selat Hormuz yang kembali terbuka selama masa gencatan senjata.
Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Langsung Turun
Dilansir dari CNBC, harga minyak mentah Amerika Serikat untuk pengiriman Mei turun 11,1% menjadi USD 84,26 per barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Juni ikut melemah 10,5% ke level USD 88,95 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah pernyataan Araghchi yang menyebut Selat Hormuz tetap terbuka selama gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Kondisi ini meningkatkan harapan berkurangnya gangguan pasokan minyak global.
Dalam unggahannya di media sosial, Araghchi juga menegaskan bahwa kapal yang melintasi jalur tersebut harus mengikuti “rute terkoordinasi” sesuai arahan otoritas maritim Iran.
Pernyataan Trump Ikut Dorong Sentimen Pasar
Menurut laporan CNBC, pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut konflik yang dimulai sejak 28 Februari seharusnya segera berakhir.
Trump juga merespons langsung dengan mengucapkan terima kasih kepada Iran karena membuka Selat Hormuz. Namun dalam unggahan lain di Truth Social, ia menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran tetap “berlaku penuh” hingga tercapai kesepakatan.
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Jadi Latar Belakang
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari yang dimulai Kamis pukul 17.00 waktu setempat.
Konflik sebelumnya terjadi akibat operasi militer Israel terhadap Hizbullah, kelompok militan yang bersekutu dengan Iran. Situasi ini sempat menghambat negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Trump bahkan menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun akan diundang ke Gedung Putih untuk pembicaraan yang disebut sebagai yang pertama sejak 1983.
Pasokan Masih Tertekan Meski Ada Harapan
Meski harga minyak turun, kondisi pasokan global belum sepenuhnya pulih. Menurut analis ING, pasar masih menghadapi tekanan karena aliran minyak belum kembali normal.
“Namun, pasar fisik semakin ketat setiap hari tanpa dimulainya kembali aliran minyak melalui Selat Hormuz,” demikian pernyataan analis ING.
ING memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari pasokan minyak telah terganggu, bahkan setelah mempertimbangkan pengalihan jalur pipa dan pergerakan tanker yang terbatas.
Baca Juga:
- Bahlil Sebut Harga BBM Subsidi Aman, Tak Naik hingga 2026
- Gas Elpiji 3 Kg Langka di Probolinggo, Harga Tembus Rp25 Ribu
Harapan Lanjutan Gencatan Senjata
Masih menurut laporan yang sama, penurunan harga minyak juga dipengaruhi ekspektasi bahwa Amerika Serikat dan Iran dapat memperpanjang gencatan senjata hingga dua minggu.
Potensi kelanjutan pembicaraan untuk mengakhiri konflik menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pasar.
Anjloknya harga minyak dunia kali ini dipicu kombinasi pembukaan Selat Hormuz dan harapan meredanya konflik di Timur Tengah. Meski begitu, kondisi pasokan global masih menjadi perhatian utama ke depan.
0 Komentar