IHSG melemah tajam hingga pukul 14.15 WIB pada Rabu (4/3/2026), seiring meningkatnya eskalasi konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat pengawasan dan mitigasi risiko untuk menjaga stabilitas pasar modal di tengah tekanan eksternal yang kian besar.

Berdasarkan data perdagangan siang, Indeks Harga Saham Gabungan turun ke level 7.549,03. Posisi tersebut mencerminkan penurunan 390,74 poin atau minus 4,92 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Koreksi ini menunjukkan tekanan jual yang jauh lebih dalam dibandingkan pelemahan pada sesi pagi.

Eskalasi Global Picu Tekanan IHSG

Pelemahan IHSG terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut memicu perubahan perilaku investor yang cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Baca Juga: THR Lebaran 2026 Cair, Ini Rincian Lengkap dan Stimulus

Strategi risk-off yang diambil pelaku pasar biasanya terjadi saat risiko global meningkat. Investor memilih menahan dana atau memindahkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Konsultan dan perencana keuangan, Elvi, menilai pasar modal Indonesia memiliki tingkat elastisitas tinggi terhadap dinamika global. Jika eskalasi terus berlanjut, volatilitas dinilai berpotensi meningkat dan memicu aksi jual tambahan.

Menurutnya, dampak konflik geopolitik umumnya merambat melalui kenaikan harga minyak mentah dunia. Lonjakan harga energi dapat memberi tekanan pada nilai tukar rupiah serta mendorong arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang.

Tekanan tersebut berisiko memperburuk sentimen investor dan menekan saham-saham domestik. Pelemahan IHSG hampir lima persen hingga siang hari mencerminkan besarnya respons pasar terhadap perkembangan eksternal.

OJK Perkuat Pengawasan dan Mitigasi Risiko

Menghadapi kondisi ini, OJK dinilai perlu memastikan mekanisme pengawasan berjalan optimal dan respons kebijakan tetap terukur. Penguatan mitigasi risiko dianggap krusial untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Baca Juga: BHR Ojol dan Kurir Cair Jelang THR Lebaran 2026, Dana Rp220 Miliar

Elvi menekankan pentingnya koordinasi antara OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan guna menjaga kepercayaan pasar. Sinergi kebijakan antarlembaga menjadi faktor penting dalam meredam gejolak yang bersumber dari luar negeri.

Ia juga mengingatkan bahwa stabilitas psikologis investor sama pentingnya dengan fundamental ekonomi. Ketika ekspektasi pasar tetap terkelola, tekanan yang terjadi berpotensi tidak berkembang menjadi kepanikan yang lebih luas.

Bagi investor ritel, fluktuasi tajam IHSG diimbau tidak disikapi secara emosional. Diversifikasi portofolio dan disiplin pada strategi investasi jangka panjang tetap menjadi pendekatan utama di tengah volatilitas tinggi.

Keputusan investasi sebaiknya tetap berbasis analisis fundamental serta manajemen risiko yang matang. Meski pasar sensitif terhadap sentimen global, faktor domestik dan kinerja emiten tetap berperan dalam menentukan arah jangka panjang.

Pergerakan IHSG hingga pukul 14.15 WIB menunjukkan tekanan masih berlangsung. Perkembangan situasi geopolitik dan respons kebijakan otoritas keuangan akan menjadi penentu stabilitas pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Berita Internasional: Iran Sebut Perang Berakhir Jika Agresi AS-Israel di

Langkah cepat dan terukur dari regulator diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor serta membatasi dampak lanjutan terhadap sistem keuangan nasional.