Produksi susu tembus ratusan ribu liter per hari, tetapi nilainya belum maksimal. Di sinilah masalahnya. Pemerintah mulai menyoroti celah besar yang selama ini belum dimanfaatkan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas, menegaskan Koperasi Susu SAE (KopSAE) di Pujon, Kabupaten Malang, harus segera masuk ke tahap hilirisasi agar bisa langsung menyuplai kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Zulhas Minta KopSAE Pujon Naik Level

KopSAE saat ini sudah berada di level produksi yang tidak lagi kecil. Dalam sehari, koperasi ini mampu menghasilkan sekitar 130 ribu liter susu segar.

Namun, sebagian besar produksi tersebut masih dijual dalam bentuk mentah ke industri. Artinya, nilai tambah justru dinikmati pihak lain.

Zulhas melihat ini sebagai peluang besar yang belum dimaksimalkan. Ia mendorong agar KopSAE mulai memproduksi susu olahan, seperti susu UHT, sehingga bisa langsung masuk ke rantai pasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Jika ini terealisasi, distribusi bisa dipangkas dan suplai ke wilayah Malang dan sekitarnya menjadi lebih efisien.

Kenapa Hilirisasi Jadi Sorotan

Selama ini, alur distribusi susu dari KopSAE masih cukup panjang. Produk harus dikirim ke pabrik terlebih dahulu, bahkan hingga ke Bandung, sebelum kembali didistribusikan.

Proses ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga mengurangi potensi keuntungan bagi koperasi dan peternak.

Dengan hilirisasi, produk bisa langsung diolah di sumbernya. Selain mempercepat distribusi, langkah ini juga meningkatkan nilai jual.

Lebih jauh lagi, hilirisasi membuka peluang bagi KopSAE untuk menjadi pemain utama dalam mendukung program MBG yang membutuhkan suplai gizi berkualitas dan stabil.

Dampaknya ke Peternak dan Rantai Pasok

Jika rencana ini berjalan, dampaknya tidak kecil. Peternak yang tergabung dalam koperasi berpotensi mendapatkan peningkatan kesejahteraan.

Saat ini, dari total produksi harian, hanya sekitar 2 persen yang diolah. Sisanya dijual dalam bentuk susu segar ke industri.

Padahal, dengan jumlah sekitar 9 ribu ekor sapi perah dan produktivitas rata-rata 14 liter per ekor, potensi pengembangan masih sangat besar.

Hilirisasi bisa mengubah pola bisnis dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen produk jadi.

Selain itu, program MBG juga akan diuntungkan karena pasokan susu bisa lebih terjamin, baik dari sisi kualitas maupun kontinuitas.

Kendala Modal Jadi Tantangan

Meski peluangnya besar, langkah menuju hilirisasi tidak tanpa hambatan. Pihak koperasi mengakui masih terkendala pada kebutuhan modal untuk membangun fasilitas produksi.

Sekretaris KopSAE, Nur Kayin, menyebut dukungan dari pemerintah pusat menjadi angin segar bagi rencana tersebut.

Saat ini, koperasi tengah menghitung kebutuhan biaya pembangunan pabrik dan skema operasionalnya.

Jika semua berjalan sesuai rencana, dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan, pihak koperasi akan mengajukan proposal ke pemerintah pusat untuk merealisasikan proyek ini.

Rantai Pasok Program MBG

Bagi publik, langkah ini bukan sekadar soal industri susu. Ini berkaitan langsung dengan rantai pasok program Makan Bergizi Gratis.

Semakin pendek distribusi, semakin cepat dan efisien produk sampai ke penerima manfaat.

Di sisi lain, hilirisasi juga menjadi kunci agar peternak lokal tidak terus berada di posisi bawah dalam rantai nilai.

Baca juga:

Pada akhirnya, dorongan hilirisasi ini bisa menjadi titik balik bagi KopSAE. Jika berhasil, bukan hanya produksi yang besar, tapi juga nilai ekonomi yang ikut melonjak baik untuk koperasi, peternak, maupun program MBG itu sendiri.