Indonesia Diminta Belajar dari Negara Tetangga Cegah Virus Nipah
Pakar kesehatan mendorong Indonesia meniru langkah negara tetangga untuk mencegah penularan virus Nipah menyusul merebaknya kasus di India.
Pakar kesehatan global Prof. Tjandra Yoga Aditama menilai Indonesia perlu segera menyiapkan langkah pencegahan untuk mengantisipasi potensi penularan virus Nipah. Seruan ini disampaikan menyusul merebaknya kasus virus tersebut di India, termasuk temuan penularan antarmanusia. Menurutnya, mobilitas warga India ke Indonesia membuat kewaspadaan dini menjadi penting.
Virus Nipah dikenal sebagai patogen berbahaya yang dapat memicu gangguan pernapasan hingga peradangan otak. Dalam kondisi tertentu, virus ini tidak hanya menular dari hewan ke manusia, tetapi juga antar-manusia, sehingga berisiko menyebar lintas negara melalui perjalanan internasional.
Kewaspadaan Regional Jadi Rujukan
Prof. Tjandra menjelaskan, sejumlah negara di kawasan Asia sudah mengambil langkah konkret untuk menekan potensi masuknya virus Nipah. Thailand, misalnya, melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap penumpang yang tiba dari wilayah West Bengal, India, di bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang. Nepal juga menerapkan skrining serupa di Bandara Internasional Tribhuvan.
Baca Juga: Kemlu RI Pastikan WNI di Benggala dari Virus Nipah
Langkah pencegahan yang lebih komprehensif dilakukan Singapura. Pada 28 Januari 2026, pemerintah setempat mengumumkan kebijakan antisipasi yang meliputi pemeriksaan suhu tubuh di Bandara Changi. Selain itu, tenaga medis, pengelola rumah sakit, dan laboratorium diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap pasien dengan riwayat perjalanan dari West Bengal yang menunjukkan gejala infeksi.
Tidak berhenti di situ, Singapura juga merencanakan edukasi kesehatan di pintu masuk negara, memperketat pemantauan kesehatan pekerja migran yang baru tiba dari Asia Selatan, serta menjalin koordinasi lintas negara untuk memantau perkembangan penularan virus.
Indonesia Perlu Langkah Serupa
Melihat kondisi tersebut, Prof. Tjandra menekankan bahwa Indonesia memiliki risiko yang perlu diperhitungkan. Sebagai negara tujuan wisata dan tenaga kerja, Indonesia menerima kunjungan dalam jumlah besar dari India setiap tahunnya. Karena itu, pengawasan kesehatan dinilai perlu difokuskan, terutama bagi pendatang dari wilayah dengan laporan kasus.
Ia menyebutkan, setidaknya pengamatan khusus dapat diterapkan kepada pelaku perjalanan yang berasal dari kawasan Kolkata dan West Bengal. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya negara-negara tetangga dalam menekan potensi penyebaran lintas batas.
Selain pengawasan di pintu masuk, peningkatan koordinasi dengan organisasi kesehatan internasional juga dianggap penting. Prof. Tjandra menyarankan agar pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan WHO kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat untuk mengantisipasi dampak lebih luas dari penyebaran virus Nipah.
Mengenal Virus Nipah dan Risikonya
Virus Nipah pertama kali dilaporkan pada akhir 1990-an dan awalnya menular dari hewan, seperti kelelawar dan babi, ke manusia. Seiring waktu, penularan antar-manusia juga teridentifikasi, termasuk melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi.
Secara global, tercatat sekitar 750 kasus infeksi pada periode awal kemunculannya. Setelah pertama kali ditemukan, laporan kasus kemudian muncul di sejumlah negara, termasuk Bangladesh, India, Filipina, dan Singapura.
Berita Rekomendasi: DKI Jakarta Diminta Perkuat Surveilans Dini Hadapi Virus Nipah
Masa inkubasi virus ini berkisar antara empat hingga 21 hari, bahkan dapat lebih lama. Gejala awal sering menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Pada tahap lanjutan, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru, pneumonia, hingga peradangan otak yang berisiko fatal.
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk infeksi virus Nipah. Kondisi ini membuat upaya pencegahan, deteksi dini, dan koordinasi internasional menjadi kunci utama dalam menekan potensi penyebarannya.
0 Komentar