Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengumumkan penyesuaian menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan saat meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nikmat Barokah di Rungkut, Surabaya, Kamis (19/2). Penyesuaian ini dilakukan agar penerima manfaat, khususnya siswa yang berpuasa, tetap dapat mengonsumsi makanan sesuai waktu sahur maupun berbuka.

Kebijakan tersebut mencakup perubahan jenis menu yang sebelumnya berupa makanan siap santap seperti nasi, sayur, dan lauk, menjadi makanan kering yang lebih fleksibel dalam waktu konsumsi. Langkah ini disebut sebagai bentuk adaptasi program MBG terhadap kebutuhan selama bulan puasa.

Baca Juga: Zulkifli Hasan Targetkan Swasembada Protein Nasional

Penyesuaian Menu MBG Selama Ramadan

Zulkifli Hasan menjelaskan, paket makanan kering dipilih agar mudah disimpan dan dikonsumsi kapan saja oleh siswa. Contoh menu yang disiapkan antara lain telur rebus, roti, kurma, serta kacang-kacangan yang dapat dimakan saat berbuka puasa maupun sahur.

Selain itu, pola distribusi juga diubah untuk kalangan tertentu. Bagi santri di pondok pesantren, waktu pembagian makanan yang biasanya dilakukan siang hari akan digeser ke sore menjelang waktu berbuka. Sementara itu, kelompok penerima manfaat yang tidak menjalankan puasa, seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan non-muslim, tetap menerima distribusi makanan sesuai jadwal normal.

Penyesuaian ini diharapkan menjaga keberlanjutan program MBG tanpa mengganggu kebutuhan gizi penerima manfaat selama Ramadan. Program tetap berjalan dengan skema distribusi yang disesuaikan dengan kondisi ibadah puasa.

Pada kunjungan tersebut, pemerintah juga menyosialisasikan Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang tata kelola penyelenggaraan MBG. Regulasi ini menjadi dasar penguatan standar pelaksanaan program, termasuk aspek keamanan pangan dan kualitas gizi.

Baca Juga: Prabowo Hadiri Forum Board of Peace Bahas Rekonstruksi

Distribusi dan Standar Layanan Gizi di SPPG

Di sisi lain, percepatan sertifikasi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi SPPG juga menjadi perhatian. Disebutkan bahwa di Jawa Timur terdapat sekitar 2.110 SPPG, dan lebih dari separuhnya telah mengantongi sertifikat tersebut. Fasilitas yang telah memiliki SLHS, sertifikasi halal, serta standar keamanan pangan dinilai dapat menjadi rujukan bagi unit layanan lainnya.

Pengelola SPPG Nikmat Barokah, Yayuk Eko Agustin, menyampaikan bahwa menu makanan kering yang disalurkan selama Ramadan melibatkan produk dari pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) lokal. Jenis makanan yang disiapkan meliputi roti, abon, telur asin, telur rebus, dan buah, yang seluruhnya diproduksi oleh pelaku usaha setempat.

Distribusi makanan tetap dilakukan ke sekolah saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Namun, selama masa libur sekolah, penyaluran difokuskan kepada kelompok prioritas seperti ibu hamil dan ibu menyusui agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

Setiap hari, SPPG Nikmat Barokah mendistribusikan sekitar 3.500 porsi makanan yang mencakup siswa, guru, ibu hamil, serta ibu menyusui. Skema distribusi ini dipertahankan dengan penyesuaian waktu dan jenis menu selama Ramadan.

Berita Rekomendasi: Perjanjian Dagang AS–Indonesia Disepakati di

Penyesuaian menu dan jadwal distribusi MBG menunjukkan upaya pemerintah menjaga keberlanjutan program gizi nasional di tengah perubahan pola konsumsi selama bulan puasa. Dengan tetap mempertahankan standar keamanan dan gizi, program ini diharapkan tetap menjangkau penerima manfaat secara optimal sepanjang Ramadan.