Penutupan Selat Hormuz Picu Ancaman Lonjakan Harga Minyak
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu ancaman lonjakan harga minyak dunia dan gangguan pasokan energi global di tengah ketegangan Timur Tengah.
Pemerintah Iran melalui pasukan Garda Revolusi resmi menutup Selat Hormuz pada awal Maret 2026, menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah akibat serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan jalur pelayaran strategis ini langsung memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi lonjakan harga minyak dan gangguan pasokan energi dunia.
Langkah tersebut diumumkan setelah situasi keamanan di kawasan memanas dan berdampak pada salah satu rute distribusi energi terpenting di dunia. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak dan gas internasional, sehingga penutupannya dinilai berisiko besar terhadap stabilitas ekonomi global.
Baca Juga: Iran Tetapkan Kepemimpinan Sementara Usai Khamenei
Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Harga Minyak Dunia
Mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden George W. Bush, Bob McNally, menilai penutupan Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak melampaui US$100 per barel jika berlangsung dalam waktu lama. Ia menekankan bahwa gangguan pada jalur distribusi energi utama tersebut dapat menimbulkan dampak luas terhadap perekonomian global.
Menurutnya, kontrak berjangka minyak mentah diperkirakan akan langsung mengalami lonjakan saat perdagangan kembali dibuka, dengan potensi kenaikan sekitar US$5 hingga US$7 per barel. Pada perdagangan terakhir sebelum eskalasi, harga minyak Brent tercatat di kisaran US$72,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$67,02 per barel, keduanya mengalami kenaikan lebih dari dua persen.
Data Kpler menunjukkan bahwa lebih dari 14 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz sepanjang 2025. Angka tersebut setara dengan sekitar sepertiga ekspor minyak laut global. Sebagian besar pengiriman energi itu ditujukan ke kawasan Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan, yang sangat bergantung pada jalur tersebut untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.
Baca Juga: Iran Pertimbangkan Mundur dari Piala Dunia
Selain minyak mentah, sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga melalui selat ini, dengan Qatar sebagai salah satu pemasok utama. Ketergantungan besar pada satu jalur pelayaran membuat upaya pengalihan pasokan energi global dalam waktu singkat menjadi sangat sulit.
Respons Internasional dan Risiko Gangguan Energi Global
Penutupan Selat Hormuz diumumkan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui transmisi radio yang melarang seluruh kapal melintasi kawasan tersebut. Pernyataan resmi disampaikan oleh Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari yang menyebut langkah itu sebagai respons atas agresi terhadap Iran.
Informasi penutupan juga dikonfirmasi oleh pejabat misi angkatan laut Uni Eropa Apsides yang menyatakan bahwa peringatan larangan pelayaran telah disebarkan melalui saluran komunikasi maritim. Kapal-kapal dagang dan tanker minyak diminta menghindari jalur tersebut demi keselamatan pelayaran.
Di sisi lain, otoritas perkapalan Yunani mengimbau kapal pengangkut minyak untuk menjauhi Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz guna meminimalkan risiko keamanan di wilayah yang terdampak konflik.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur krusial yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global. Negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengandalkan selat ini untuk mengekspor minyak mentah mereka, terutama ke pasar Asia. Bahkan, sebagian besar ekspor LNG Qatar juga dikirim melalui rute tersebut.
Bob McNally juga memperingatkan potensi aksi penimbunan energi oleh negara-negara importir besar, khususnya di Asia, apabila situasi semakin memburuk. Kondisi ini berisiko memicu persaingan pasokan energi yang ketat di pasar global dan memperparah tekanan terhadap harga.
Berita Rekomendasi: Kunjungan Menko Pangan di MAN 2 Malang Soroti Gizi
Secara keseluruhan, penutupan Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi memicu gejolak ekonomi yang lebih luas. Jika berlangsung berkepanjangan, gangguan distribusi energi global dapat meningkatkan risiko resesi dan memperburuk ketidakpastian ekonomi dunia.
0 Komentar